Perginya Burung Merak.
KENANGAN DAN KESEPIAN
Rumah tua
dan pagar batu.
Langit di desa
sawah dan bambu.
Berkenalan dengan sepi
pada kejemuan disandarkan dirinya.
Jalanan berdebu tak berhati
lewat nasib menatapnya.
Cinta yang datang
burung tak tergenggam.
Batang baja waktu lengang
dari belakang menikam.
Rumah tua
dan pagar batu.
Kenangan lama
dan sepi yang syahdu
Salah satu sajak Ws Rendra yang ngena banget disaat aku kangen ma kampung halaman, dengan suasana desa perawan dan udara segar. Semakin menambah haru ingatanku pada sosok orang tua di rumah.
Terima kasih willy, kau sudah buatkan aku sajak yang begitu indaa ini. aku mengenalmu sejak aku maish SMP, dari situ aku sedikit mengenal permainan kata yang kau mainkan, hingga aku ingin menirunya, aku hanya bisa sebatas amatir yang aku nikmati sendiri. aku sudah memposisikan dirimu sebagai seorang Chairil Anwar dan aku sangat bangga Indonesia mempunyai sosok sepertimu, berjuang dalam sajak dan kata. menyindir masa aroganisme pemerintah waktu itu.
Dan kini Indonesia pun tau kau telah tiada, kau telah peri meninggalkan banyak cerita hidup yang nantinya akan diceritakan anakmu kepada cucumu. tak ada yang menyangkal indonesia bangga mempunyai sosok sepertimu.
Rendra adalah sosok mualaf. Ws Rendra juga biasa dipanggil dengan nama Willy. Perjalanan spiritualnya selama ini telah menghantarkan ia dari seorang Katolik menjadi seorang Muslim. Keyakinannya dalam memeluk agama baru yang seharusnya menjadi hak asasi seorang Rendra, sempat menuai kontroversi. Saat itu sejumlah tudingan dialamatkan kepada anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah itu, seperti pindah agama untuk mencari popularitas, atau ‘melegalkan’ upayanya dalam berpoligami.
Rendra memeluk Islam saat ia menikahi Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri Keraton Yogyakarta yang sebelumnya telah bergabung di Bengkel Teater. Tugas Sito sebelumnya adalah menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra, dari hasil pernikahan dengan Sunarti Suwandi.
Ayah Sito tidak mengizinkan putrinya yang beragama Islam, menikah dengan pemuda Katolik. Rendra pun lalu memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari pernikahan dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi. Padahal Rendra pernah memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka.
Peraih beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964-1967) itu sebelumnya menjalani pengembaraan spriritual yang luar biasa. Kabarnya ia sempat berpindah-pindah agama, bahkan pernah memilih untuk menjadi seorang atheis.
“Namun pada suatu malam, ia melihat iringan-irangan orang berjubah putih pergi ke mesjid untuk melakukan shalat malam. Disitulah ia mengaku tertarik untuk mempelajari Islam,” kata Eros Djarot, budayawan, suatu ketika.
Terhadap berbagai komentar sinis atas pilihan memeluk Islam, Rendra menanggapinya dengan tenang. Bagi dia, Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya yakni kemerdekaan individual.
“Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai,” kata Rendra sambil mengutip ayat Quran yang menyatakan bahwa Allah SWT lebih dekat dari urat leher seseorang.
Rendra juga mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada Islam sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum ia menikah dengan Sitoresmi.
Dan dalam Kasidah Barzanji itu pula ada kutipan syair yang pantas untuk menghantar kepulangan Rendra ke alam baka. Tetapkan iman bersama mati. Semoga didapat apa diminta apa diarah. Jagalah kami dari laku yang nista, laku yang rendah….
Selamat jalan WS Rendra, air mata kami bersimbah saat mengenang kiprah dan karya-karyamu…
Quote from : http://www.semelekete.com/
aku hanya bisa mendoakanmu disini semoga segala yang kaulakukan di Bumi ini amalan dan semua perjuanganmu diterima di Sisi Allah SWT. dan selintas aku berpikir, aku telah menyelesaikan sajak amatir ini untukmu. semoga engkau senang dan tersenyum di sampingnya. Amin..
Sayap Merak
Perginya sang burung merak.
meninggalkan bekas cahaya biru dari sayapmu.
kau tutup matamu dari sekarang hingga nanti.
meninggalkan bekas sajak-sajak perjuangan yang tak bisa hilang.
perjuangan hidup, negara, tubuh ini, dan jalan berliku.
semua sudah selesai kau lalui
aku tak tau bahkan sedikitpun tentang merak
yang aku tau sayapmu begitu indah
hingga kau terasa kaku
sayap pelangimu masih melintang indah
didepan mataku dan mata tanah airmu.






Leave a Reply